Oleh: edijarot | Desember 22, 2007

TULANG MANUSIA DIMAKAN BINATANG BUAS

Sejumlah warga Desa Empelu Kec. Muara Tembesi, Kab. Batanghari, Jambi menemukan potongan tulang-belulang mayat manusia yang diduga dimakan binatang buas di kebun sawit milik warga setempat.

Polisi mengatakan, Sabtu, potongan tulang belulang mayat berjenis kelamin laki-laki itu adalah warga setempat yang bernama Ali (80) berprofesi sebagai buruh tani kelapa sawit yang hilang beberapa pekan lalu.

Saat mayat korban ditemukan warga di dalam kebun sawit tersebut, kondisinya sudah busuk dan tulang bagian tubuhnya sudah terpisah-pisah.

Korban diduga dalam keadaan sankit ketika bekerja di kebun kelapa sawit dan setelah meninggal dunia tubuhnya dimakan binatang buas hingga tinggal tulang-belulang terpisah-pisah dan berserakan di lokasi tersebut.

Menurut keluarga korban, sepekan lalu korban yang dalam kondisi sakit pergi dari rumah dan dinyatakan hilang, tetapi kemudian ditemukan warga setempat sudah menjadi mayat.

Sementara itu di Kab. Tanjung Jabung Timur, kepolisian setempat juga menemukan mayat laki-laki bernama Sukari (55), yang ditemukan warga dalam parit dalam kondisi sudah tidak bernyawa lagi.

Diduga sementara korban meninggal akibat sakit epilepsi (ayan) yang dideritanya. Korban diduga terjatuh ke dalam parit hingga menghembuskan nafasnya.

Harimau Dimata Orang Mandailing

Oleh : Ikror Amin Lubis

Ketika rakyat mendaulat agar sebagian hutan di Mandailing Natal dijadikan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), sesungguhnya hal ini seperti mengingatkan kembali kepada orang-orang Mandailing terhadap ajaran-ajaran leluhurnya tentang alam sekitar. Para pendahulu lembah Mandailing adalah orang yang memiliki kearifan-kearifan terhadap alam. Penggunaan nama dedaunan (bulung-bulung) untuk intreaksi komunikasi telah menempatkan suku bangsa ini sebagai satu-satunya pemilik bahasa daun (bladerentaal) berdasarkan tulisan Prof. Ch. A. Van Ophuysen pada tahun 1886. Disamping bahasa daun, proses terciptanya ‘gordang sambilan’ dengan sembilan ukuran dan suara yang berbeda-beda sebagai manifestasi suara-suara alam merupakan bukti lain tentang eratnya hubungan para leluhur daerah ini dengan pepohonan dan hewan-hewan disekitarnya. Dan kini, di saat rakyat Mandailing Natal menjadikan hutannya sebagai kawasan taman nasional, hal itu bukan saja untuk kesejahteraan masyarakat di daerah ini. Lebih dari itu akan bermanfaat bagi orang lain, baik yang pernah sekedar singgah, mengetahui lewat peta atau buku, dan juga bagi yang tidak mengetahui sama sekali yang berada di belahan bumi lain. Dengan terbentuknya taman nasional ini akan melindungi biodiversitas flora dan fauna, yang merupakan kekayaan untuk ilmu pengetahuan, dan juga secara makro tutupan hutan Mandailing Natal berperan mempertahankan keseimbangan iklim dunia yang semakin tak terkendali. Taman nasional yang baru berusia beberapa tahun ini menyimpan kekayaan luar biasa terutama dari fauna yang dimilikinya. Ada tiga jenis hewan yang termasuk dalam lampiran I CITES yang masih berkeliaran bebas dihutan Mandailing Natal. Lampiran ini mengindikasikan hewan-hewan ini berada pada situasi sangat berbahaya atau nyaris punah. Adapun ketiga jenis hewan itu adalah harimau Sumatera ( Panthera tigris sumatrae ), kucing emas ( Catopuma temminckii ), dan tapir ( Tapirus indicus ). Khusus untuk harimau Sumatera, saat ini jumlahnya diperkirakan tinggal 500 ekor saja yang berada di Indonesia. Dengan rincian 400 ekor mendiami kawasan-kawasan taman nasional seperti Batang Gadis, Bukit Barisan Selatan, maupun di Gunung Leuser. Sedangkan 100 ekor lagi berada diluar kawasan taman nasional dengan kondisi setiap saat berada dalam bahaya karena aktifitas perburuan liar dan wilayah hutan yang semakin sempit.Berdasarkan penelitian Conservation International Indonesia, kepadatan populasi harimau Sumatera di Taman Nasional Batang Gadis adalah 1,1 ekor dalam 100 Km2.( Luas keseluruhan TNBG adalah 108.000 Ha ). Penelitian ini dilakukan baru pada satu tempat saja di seputaran hutan Sopo Tinjak, sisi utara Gunung Sorik Marapi. Pada tempat lain seperti sisi selatan gunung bertinggi 2.145 m ini yang termasuk juga kawasan TNBG, kemungkinan belum diteliti. Disamping itu, penulis juga yakin diluar kawasan taman nasional. Harimau Sumatera sebagai satu-satunya spesies harimau yang masih tersisa di Indonesia —Setelah harimau Jawa dan Bali punah— masih banyak berkeliaran bebas. Karena apa, karena masyarakat Mandailing Natal menghormati hewan ini. Jadi kalau ada yang memburu dan membunuh harimau di wilayah ini, pelakunya bukanlah orang Mandailing Natal, tetapi adalah ‘orang luar’.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: