Oleh: edijarot | Desember 29, 2007

CATATAN AKHIR TAHUN SUMBAR – BERHELAT MELAWAN BENCANA SEPANJANG 2007

Oleh Abna Hidayati

Sepanjang 2007, rakyat Sumatera Barat hanya disibukkan oleh bencana alam, mulai dari gempa bumi, ancaman tsunami, longsor, ancaman letusan gunung Talang hingga banjir di penghujung tahun. “Sepanjang tahun ini kita hanya disibukkan helat besar mengurus bencana, namun syukur masih banyak agenda besar lainnya yang bisa kita kerjakan seperti penandatangan sejumlah proyek infrastruktur,” kata Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi, baru-baru ini. Bencana alam, baik banjir, gempa, maupun letusan gunung api satu hal yang tidak bisa dielakkan, karena memang kondisi alam dan letak Sumbar rawan bencana. “Suka tidak suka kita memang harus mempersiapkan masyarakat untuk terbiasa dengan bencana dan dapat melakukan antisipasi jika musibah itu terjadi,” kata Gubernur yang menaungi wilayah berpenduduk 4,6 juta jiwa itu. Guna mengantisipasi hal tersebut, Pemda Sumbar juga telah mempersiapkan sebuah Perda No 5 tahun 2007, tentang penanggulangan bencana.
Banjir

Membuka lembaran tahun 2007 musibah banjir melanda sejumlah Kabupaten/kota di Sumbar, seperti Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Banjir awal tahun di Pessel menyebabkan sejumlah kenagarian di Kec. Tarusan, Bayang, dan Batangkapas, tergenang banjir. Banjir di Pessel terjadi karena Sungai Batang Tarusan, Batang Lumpo, dan Sungai Batang Kapas tidak lagi mampu menampung curah hujan yang tinggi. Menurut catatan, sepanjang tahun 2006 di Pessel terjadi sedikitnya tiga kali musibah banjir. Banjir itu menyebabkan sejumlah warga menjadi tuna wisma itu. Rata-rata ketinggian air bervariasi antara setengah meter hingga 1,5 meter. Musibah banjir juga terjadi pada Juli dan Desember 2007, mengakibatkan ribuan rumah warga dan ratusan hektar sawah penduduk terendam banjir. Sementara itu di Kota Padang, banjir menerjang Kecamatan Koto Tangah, Nanggalo dan Kuranji. Ketiga kecamatan itu memang dikenal sebagai daerah langgangan banjir. Khusus Koto Tangah banjir telah rutin terjadi menggenangi rumah warga hingga ketinggian dua meter, sehingga ratusan warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang aman di antaranya Pasar Lubuk Buaya Padang.
Gempa
Pada 2007, gempa bumi menggucang Sumbar sebanyak dua kali, yakni pada Maret dan September, saat umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa. Gempa pertama terjadi pada 6 Maret 2007 berkekuatan 6,3 SR berpusat di 11 kilometer Barat Daya Kota Batusangkar, menyebabkan 69 korban meninggal dan ratusan lainnya luka berat dan ringan akibat tertimpa material bangunan rumahnya yang roboh. Guncangan dirasakan hampir di seluruh kabupaten/kota terletak di daerah patahan semangko Sumbar, yakni Kota Padang, Padang Pariaman, Pariaman, Padang Panjang, Solok, Kabupaten Solok, Tanah Datar, Bukittinggi, dan Payakumbuh. Kerugian yang diderita warga cukup besar, mencapai Rp1,48 triliun. Ratusa rumah penduduk, fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit, sarana ibadah mencapai hancur. Daerah terparah akibat gempa itu adalah Kabupaten Tanah Datar, yang kerugiannya ditaksir mencapai Rp497 miliar. Selanjutnya gempa kedua terjadi pada 12 dan 13 September. Gempa tanggal 12 September itu berkekuatan 7,9 Skala Richter (SR) terjadi pukul 18.10 WIB dengan pusat gempa 159 kilometer arah Barat Daya Bengkulu, dan 7,7 SR berpusat di Sungai Penuh Jambi. Gempa itu dirasakan di sejumlah daerah kabupaten/kota di Sumbar khususnya Kabupaten Pessel, Kepulauan Mentawai dan Kota Padang. Bupati Pessel, Nasrul Abit, mengatakan kerusakan akibat gempa tersebut hampir merata melanda 12 kecamatan. Terparah di Kecamatan Lengayang, Lunang, Silaut, Linggo Sari Baganti, dan Basa XIV Tapan. Beruntung, jumlah korban kini menurun karena kesiagaan masyarakat, “hanya” 10 orang meninggal dunia, di antaranya akibat tertimpa material bangunan, kecelakaan lalu lintas dan serangan jantung. Namun kerusakan bangunan rumah akibat gempa itu cukup besar, mencapai 35.812 unit, tersebar di Kabupaten Pessel sebanyak 14.001 unit, Padang Pariaman 13.292 unit, Kabupaten Kepulauan Mentawai 4.789 unit, Kota Padang 3.314 unit, Kota Pariaman 188 unit, Kabupaten Solok 81 unit, Solok Selatan 44 unit, Kota Payakumbuh 33 unit.

Talang Siaga
Gunung Talang di Kab. Solok, salah satu gunung api di Sumbar juga terpicu aktivitasnya oleh guncangan gempa tektonik yang terjadi pada Rabu sore (12/9), dan hingga kini hampir 1.000 kali gempa, diantaranya sekitar 400 gempa vulkanik berasal dari gunung api itu. Menurut Kepala Unit Pengamatan Gunung Api Gunung Talang, Darlifa Marjusi, status gunung api itu sempat naik dua kali menjadi “siaga” dari sebelumnya “waspada”. Status siaga pertama naik mulai 6 Maret dan telah diturunkan menjadi waspada pada 21 April 2007. Selanjutnya status gunung api di Kabupaten Solok itu naik lagi statusnya menjadi “siaga” sejak 29 Nopember 2007, karena aktivitasnya meningkat. “Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung telah diturunkan untuk memantau kondisi gunung,” kata Kepala Posko Pemantauan Gunung Talang, Darlifa Marjusi. Status gunung Talang dinaikkan menjadi siaga karena aktivitasnya terus meningkat, di antaranya gempa lokal yang terjadi, sempat mengeluarkan asap letusan kecil dan tercium bau belerang yang menyengat. Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung sebanyak lima orang kemudian diturunkan di kawasan gunung Talang untuk memantau lebih intensif gunung api setinggi setinggi 2.597 mdpl itu. Tim tersebut juga memasang tiga unit alat pantau gempa di lereng gunung guna memperoleh informasi akurat tentang kondisi gunung api di Sumbar itu. “Karena aktivitas terus melemah status gunung tersebut diturunkan,” katanya.

Isu

Tidak hanya musibah sungguhan, warga Sumbar juga sempat disibukkan dengan isu tidak bertanggung jawab dari warga Brazil, Jucelino Nobrega da Luz, beberapa waktu lalu, yang mengatakan akan terjadi gempa bumi berpotensi tsunami hebat di Bengkulu dan Sumatera Barat, pada 23 Desember 2007. “Syukur saja isu tersebut tidak terbukti, dan kita bisa terus ingatkan masyarakat jangan mudah percaya pada isu,” kata Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi. Gubernur mengaku cukup repot menenangkan masyarakat terkait isu tersebut. Kota Padang serta sejumlah daerah lainnya juga sempat lengang lantaran warganya mengungsi. Informasi dihimpun ANTARA, tanggal 23 Desember itu, sejumlah daerah seperti Padang, Pessel dan Mentawai lengang, terutama tempat-tempat umum seperti pasar, pertokoan dan objek wisata. Ribuan warga mengungsi ke lokasi yang aman karena takut musibah gempa berpotensi tsunami itu terjadi. Terkait adanya sejumlah bencana itu, kini Sumbar semakin serius mempersiapkan diri terutama berupaya menanggulangi bencana alam tersebut, salah satunya dengan menerbitkan Perda No 5 tahun 2007,tentang penanggulangan bencana. “Kita daerah pertama yang menerbitkan Perda Penanggulangan Bencana, dan kini juga diberikan dana bantuan oleh Pemerintah Pusat untuk penanggulangan bencana,” katanya. Dia menyebutkan, sejumlah upaya dilakukan Pemda Sumbar untuk mengantisipasi bencana yakni, pembangunan sistem siaga bencana, pemetaan daerah evakuasi dan pemberian pelatihan serta pendidikan pada masyarakat.

Pemberian pelatihan itu seperti simulasi tsunami dan penyuluhan kepada masyarakat terutama bermukim di daerah rawan bencana. Selain itu, juga telah diujicoba sirine peringatan dini yang dipusatkan pada gedung Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana. Sirine tersebut terhubung pada tujuh kabupaten/kota yakni, Kota Padang, Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Agam, Pesisir Selatan, Pasaman Barat, dan Kepulauan Mentawai. “Kita berharap tahun 2008 bencana itu tidak terjadi lagi, namun kita akan terus mempersiapkan diri,” katanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: