Oleh: edijarot | Januari 9, 2008

GEMPA BUMI PUN ADA MUSIMNYA

 

Layaknya dunia fauna yang punya istilah “musim kawin”, ternyata gempa bumi juga ada musimnya, seperti di pegunungan Himalaya yang “rajin” disambangi gempa selama musim dingin.
Selama beberapa tahun lamanya, para ahli gempa bumi mencermati bahwa gempa bumi tektonik akibat pergeseran lempeng di pegunungan Asia lebih kerap terjadi di musim dingin daripada musim panas, tapi mereka belum dapat memastikan alasan terjadinya fenomena itu.
Baru sekarang, setelah penelitian menggunakan teknologi GPS dan data satelit didapati bahwa aktifitas gempa tektonik ada kaitannya dengan angin musim yang “menyirami” kawasan itu setiap musim panas.
Pegunungan Himalaya adalah kawasan yang rentan dilanda gempa bumi karena tekanan yang ditimbulkan oleh lempeng India dan Eurasia, seiring dengan pergeseran Benua India yang terus merasuk ke Benua Asia.
Peneliti bernama Philippe Avouac dari Caltech dan rekan-rekannya menganalisis sebanyak 10.000 rangkaian gempa di Himalaya dan ternyata jumlah gempa pada musim dingin (Desember hingga Februari) dua kali lebih banyak daripada gempa yang terjadi pada musim panas.
Sebagai contoh, gempa berkekuatan tiga skala richter selama musim dingin bisa terjadi 150 kali per bulan. Sementara pada musim panas jumlahnya cuma 75 kali dalam satu bulan.
Sementara gempa yang kekuatannya empat skala richter, rata-rata terjadi 16 kali per bulan di musim dingin, sedangkan selama musim panas gempa hanya terjadi empat kali sebulan.
Menurut Avouac, seperti dikutip dari laman http://www.lifescience.com, gempa yang kekuatannya lebih besar juga mengikuti pola yang sama dengan pola tadi.
Sementara itu berdasarkan pemantauan citra satelit terlihat bahwa ketinggian air di anak-anak Sungai Gangga berubah secara drastis mengikuti perubahan musim.
Air naik empat meter pada awal musim angin muson di pertengahan Mei, lalu mencapai titik maksimal pada bulan September, dan menurun hingga musim angin muson berikutnya datang.
Ketika angin muson membuat air di anak-anak Sungai Gangga berangsur naik, muson juga menambah tekanan ke kawasan tersebut.
Lalu saat hujan berhenti turun dan simpanan air di sungai pun merangsek ke dalam tanah, beban lempeng pun dengan mudah keluar menghadapi Pegunungan Himalaya.
Penglepasan beban ini kemudian memicu pemampatan horizontal rangkaian gunung dalam tahun itu, hingga puncak munculnya gempa bumi selama musim dingin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: