Oleh: edijarot | Januari 9, 2008

MUJIATI “JUAL” BAYINYA RP1 JUTA

The image “http://abimuslih.files.wordpress.com/2007/06/bayi-from-god.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.Mata bayi mungil itu berkedip-kedip dan senyumnya memekar saat sang ibu mendekapnya.
“Saya tidak menjualnya. Jangan disebut saya menjualnya Rp1 juta,” kata Mujiati (39), sang ibu menolak pengakuan dosanya saat ditemui di RS Ibu dan Anak Mutia Sari di Duri (sekitar 150 kilometer dari Pekanbaru), Sabtu.
Mujiati, perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang masak di areal perkebunan kelapa sawit yang berada di Desa Tasik Serai, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau, itu menolak perbuatan yang telah dilakukannya sebagai menjual buah cinta terlarangnya.
Bayi mungil yang berkulit bersih dan berwajah tampan itu merupakan hasil hubungan gelap Mujiati dengan seorang pria Tionghoa yang juga bekerja di perkebunan kelapa sawit itu.
Namun, sang idaman tersebut meninggalkan Mujiati begitu saja setelah dia menanamkan benih.
“Saya mengasihkan anak ini untuk dipelihara oleh orang lain karena saya tidak mampu. Hidup saya susah, tapi anak ini bisa saya ambil lagi,” tuturnya seraya terisak-isak.
Air matanya berderai menceritakan perbuatannya. Anak yang baru dilahirkannya itu terpaksa diserahkan pada orang lain yang tidak dikenalnya dengan alasan himpitan ekonomi.
Mujiati merantau ke Riau sekitar sepuluh bulan lalu dan bekerja sebagai tukang masak di sebuah areal perkebunan kelapa sawit di Tasik Serai.
Perempuan yang berasal dari Pematang Siantar, Sumut, ini merupakan seorang ibu beranak tiga yang telah sembilan tahun menjanda. Tiga anaknya tinggal di kampung halamannya di Pematang Siantar.
“Ini anak saya yang keempat,” ujarnya singkat seraya menolak menceritakan kisah hidupnya.
Namun, saat ditanya kenapa ia tega menjual buah hatinya, Mujiati kembali menangis.
“Saya tidak menjualnya. Hanya menitipkan untuk dipelihara,” katanya.
Sambil terisak perempuan kurus itu mengatakan, bayinya itu dilahirkannya pada Jumat siang 28 Desember 2007. Keesokan harinya 29 Desember 2007, bayinya itu dilegokannya pada Romas boru Manulang (36), seorang perempuan yang telah sembilan tahun menikah tapi tidak punya anak, warga Pekanbaru.
Bayinya lahir di rumah yang disewanya di perkebunan sawit di Desa Tasik Serai, tanpa bantuan bidan dan di luar perkiraan karena tiba-tiba saja ia merasa sakit perut.
“Bidan memperkirakan saya melahirkan pada tanggal 20 Januari, namun anak ini lahir pada 28 Desember kemarin lahir,” katanya.
Menurut dia, proses melahirkannya tidak sulit. Para tetangganyalah yang menolongnya dan memotongkan tali pusat anaknya.

Biaya Hidup
Perempuan tersebut mengakui bahwaq dia tidak mengenal Romas, perempuan yang memberikannya uang Rp1 juta, tetapi ia mengenal baik Manondang boru Manulang (40), kakak kandung Romas yang menjadi perantara penjualan bayi.
“Uang yang saya peroleh untuk biaya hidup saya. Sedangkan anak saya ini dijanjikan dirawat baik dan jika saya mau ambil lagi dibolehkan,” katanya.
Sementara itu, Romas boru Manulang yang ditemui di tahanan Polsek Pinggir mengaku memberikan uang Rp1 juta kepada Mujiati sebagai biaya berobat dengan imbalan bayi yang baru lahir itu diserahkan kepadanya.
“Saya telah sembilan tahun menikah tapi tak punya anak. Bayi tersebut saya ambil sebagai pancingan agar saya hamil dan dapat anak sendiri,” ujar Romas.
Perempuan bertubuh kecil ini mendapatkan informasi ada bayi yang dapat dipeliharanya dari kakaknya Manondang yang bermukim di Tasik Serai.
Ia hanya memberikan uang Rp1 juta kepada Mujiati dan bayi yang masih merah itu dibawanya ke rumah kakaknya Manondang yang bermukim di Tasik Serai, tidak jauh dari rumah Mujiati.
Namun, empat hari kemudian, jual beli bayi tersebut terungkap dan aparat kepolisian Sektor Pinggir langsung menangkap ketiga tersangkanya. Sedangkan, bayi mungil berparas tampan dengan mata sipit dan hingga kini belum diberi nama itu, dititipkan di RS Mutia Sari untuk perawatan.
“Karena pertimbangan kemanusiaan, Mujiati kita dilibatkan untuk mengasuh bayinya agar ia juga menyusui bayinya di rumah sakit,” ujar Kapolsek Pinggir, Ajun Komisaris Polisi Widi Harahap.
Bayi Mujiati dititipkan di rumah sakit yang berada di Jalan Bathin Batuah Nomor 1-A Duri itu karena kondisinya amat memprihatinkan. Dia lahir kekurangan gizi dengan berat badannya yang kurang.
“Perlengkapan bayi termasuk bahan pangan yang bergizi kita siapkan untuk bayi dan ibunya,” ujar Kapolsek Widi.
Dalam kasus “traficking” (perdagangan manusia) itu, tiga perempuan menjadi tersangka yakni Mujiati, ibu si bayi sebagai penjual, Manondang sebagai perantara, dan Romas si pembeli bayi.
Walaupun kasus tersebut sebetulnya untuk mengangkat anak (adopsi), namun prosedur yang ditempuh salah dan terkesan jual beli manusia.
“Untuk mengadopsi anak sebetulnya ada prosedur yang harus dilalui, dan ada ketetapan dari pengadilan. Dalam kasus ini prosedur resmi itu tidak ada, sehingga melanggar UU Nomor 21/2007 tentang perdagangan orang,” ujar Kapolsek.
Ia mengatakan ancaman hukumannya 3 sampai 5 tahun baik penjual, perantara maupun pembeli. Yang memberatkan Mujiati sebagai penjual karena menerima langsung uang yang diberikan Romas. Sedangkan Romas dinilainya egois, ingin memiliki bayi itu hanya untuk bahan pancingan agar ia dapat punya anak kandung sendiri.
Menurut Kapolsek, transaksi jual beli itu walaupun dilakukan bertujuan baik untuk pemeliharaan si bayi, namun di mata hukum tetap salah.
“Kita menegakkan hukum tidak dengan dasar belas kasihan. Jika ingin mengadopsi anak tempuhlah proses yang sah,” katanya.
Kapolsek berharap, kasus adopsi yang salah yang terjadi di tengah masyarakat ini hendaknya menjadi pelajaran bagi yang lain jika ingin mengangkat anak.
“Ini kasus ‘traficking’ yang pertama di wilayah kami. Kasus ini akan dikembangkan terus, apakah si ibu telah berulangkali melakukan ini dan si pembeli begitu juga,” katanya.
Ketika ditanya ayah si bayi, menurut Kapolsek, pihaknya juga akan mengejar lelaki yang tidak bertangungjawab itu.
Mujiati saat ditanya perihal ke mana perginya pria idamannya itu, hanya bisa menarik nafas, sambil memandang dalam-dalam ke wajah bayinya yang masih bersemu merah dan tanpa nama itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: