Oleh: edijarot | Januari 28, 2008

Putra Putri Pak Harto Membisu

Rasa kehilangan masih terlihat di roman muka putra-putri almarhum mantan Presiden RI ke-2, Soeharto. Usai prosesi pemakaman yang berlangsung secara militer kenegaraan, putra putri almarhum belum dapat diwawancarai. Mereka masih membisu seribu bahasa. Hujan lebat di Astana Giri Bangun persis setelah semua prosesi pemakaman selesai seperti menjadi pertanda hati mereka yang masih berduka.Semua keluarga Cendana, baik anak, menantu, dan cucu kumpul semua. Mereka berjalan beriringan walau Tommy dan Bambang berjalan tak berdampingan dengan Tata dan Halimah yang sampai saat ini masih berstatus istri dan masih gaduh di pengadilan. Sementara itu Mayangsari, mantu “jadi-jadian” Cendana tak kelihatan batang hidungnya.

Tata bersama dua anaknya yang diam saat ditanya kapan datang dari Singapura, mengaku tidak tahu sampai kapan akan berada di Astana Giri Bangun. Mungkin ia harus menyesuaikan dulu dengan acara protokoler keluarga. Sementara Bambang Tri hanya menjawab, “Maaf, nanti saja.”

Seandainya meninggalnya Pak Harto bisa menjadi momen yang membuat anggota keluarga Cendana yang kisruh dapat berkumpul bersama. Siapa tahu ini awal mereka menjadi damai.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: