Oleh: edijarot | Januari 30, 2008

KETIKA KEMATIAN MENYAPA SOEHARTO

Oleh A.A. Ariwibowo

Lima jari tangan kanan melambai dari seorang pria yang lahir di Desa Kemusuk, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921, seakan hendak mengucap “Selamat Jalan” kepada seluruh rakyat Indonesia yang dikasihi dengan sekuat tenaga dan pikiran.
Kematian pun akhirnya menyapa Mantan Presiden Soeharto pada 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Pak Harto pun menjawab panggilaan itu dengan menghadap Sang Pencipta.
Dengan mengenakan kemeja batik coklat, Haji Muhammad Soeharto, presiden kedua RI tampil dengan senyum khasnya seperti tergambar dalam foto yang termuat di sejumlah media. Judul dan tajuk berbagai surat kabar hendak menuangkan sedimen kenangan akan Pak Harto. “Pak Harto Berpulang”, Warisan Soeharto”, “Selamat Jalan Pak Harto”.
Sejumlah media elektronika baik televisi maupun radio menayangkan berbagai wawancara dan program khusus seputar memori bersama Pak Harto yang telah berkuasa selama 31 tahun. Dari pesta ulang tahun Pak Harto bersama seluruh anggota keluarganya di kediaman di Cendana, Jakarta, sampai wawancara dengan sejumlah tokoh politik dan ekeonomi, semuanya merespons kiprah Pak Harto.
Tampil tokoh reformasi Amien Rais, mantan menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja, mantan menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan Siswono Yudhohusodo, pengamat politik CSIS J Kristiadi, pengamat ekonomi Harry Tjan Silalahi, dan pengamat politik Fachry Ali.
Bagaikan sebuah novel yang jalan ceritanya utuh, mereka seakan memilah plot perjalanan politik dan ekonomi dengan jelas dan terpilah-pilah dari Bapak Pembangunan itu. Dan kematian yang menyapa Soeharto seakan kalimat panjang yang berakhir dengan titik.
Menurut Kristiadi, apa yang selama ini ditempuh mantan penguasa Orde Baru itu hendaknya jadi pelajaran bermakna bagi seluruh bangsa Indonesia. Amien Rais pun mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memaafkan Soeharto sebagai sesama insan Tuhan.
Sementara Siswono, Sarwono dan Fachry Ali menggarisbawahi perspektif Pak Harto di bidang pembangunan nasional yang bertumpu pada Trilogi Pembangunan yaitu Stabilitas, Pertumbuhan dan Pemerataan. Mereka yang diwawancarai berusaha memberi perspektif.
Namun, apa sebenarnya perspektif dari kematian yang bakal menghampiri setiap manusia? Kalau kematian tampil sebagai sesuatu yang khas bagi “setiap manusia” yang hidup, apakah kematian memiliki makna edukatif?
Staf pengajar STF Drijarkara, Prof Dr M Sastrapratedja SJ menulis kesadaran akan kematian mendorong manusia untuk berbuat guna menunda kematian yang tidak terelakkan bagi setiap manusia. Manusia kemudian menciptakan kebudayaan dan peradaban.
Untuk merespons kematian, manusia menciptakan dunia yang lebih manusiawi dengan sandang dan pangan yang berkecukupan. Manusia berjuang melawan kemiskinan dan segala penyakit. Kematian mendorong manusia untuk membangun struktur-struktur yang menunda ancaman kematian dan yang memungkinkan manusia hidup dengan lebih manusiawi.
Filsuf Jean Paul Sartre mengatakan kematian bermakna absurd, karena seluruh eksistensi ditinggalkan sebagai “jarahan” di tangan orang lain. Sifat “mendadak” dari kematian yang dapat menerpa siapa saja, kapan saja dan di mana saja serta dengan cara apa saja, membuat manusia melihatnya sebagai sesuatu yang membuat frustrasi dan tanpa arti.
“Kematian menyingkirkan semua makna dari kehidupan. Paling-paling manusia hanya dapat menunggu fakta bahwa ia harus mati meski ia tidak pernah mengharapkan kematian. Setiap orang menemukan dirinya dalam kondisi yang sama yaitu ‘terkutuk untuk mati’,” kata Sartre.
Kematian menyapa Soeharto, kematian seakan menjadi fakta yang sudah “given” (terberikan), dan kematian seakan menjadi data yang menyejarah salah satunya bahwa Mantan Presiden HM Soeharto pada Senin (28/1)tepat pukul 12.15 WIB dimakamkan di Kompleks Astana Giribangun Karanganyar Solo.
Dalam menghadapi kematian, tidak ada seorang pun yang dapat berpartisipasi di dalamnya. Dalam kematian, manusia tampil sebagai sosok yang autentik, karena tidak seorang pun dapat menggantikan orang lain yang mati.
Menurut filsuf Martin Heidegger, orang menghadapi kematian dengan tanggungjawabnya sendiri-sendiri, dalam kesepian sempurna. “Dunia menjadi tidak lagi ramah (unheimlich) bagi manusia. Hanya dalam kebesaran yang tragis dan sepi dari kematian itu, manusia dapat menemukan dirinya sendiri,” katanya.
Dan Soeharto telah berpartisipasi dalam kematian dengan kebebasan penuh. Sekitar pukul 12.15 WIB, peti jenazah yang berkalung untaian melati diturunkan ke dalam liang kubur oleh sekitar enam orang abdi Astana Giribangun berpakaian sorjan Jawa diiringi suara terompet.
Setelah dikumandangkan Adzan di tepi liang kubur, seluruh keluarga dan kerabat yang mengikuti prosesi itu kemudian menaburkan bunga diiringi lagu Gugur Bunga. Presiden Yudhoyono melakukan prosesi penimbunan liang lahat diikuti oleh keluarga dan kemudian ditimbun oleh abdi Astana Giribangun dengan tanah yang dikemas dalam karung plastik.
Makam mantan penguasa Orde Baru ini ditempatkan di sebelah makam Siti Hartinah, istri Soeharto serta tiga makam lain, yang berisi orang tua dan kakak tertua Ibu Tien.
Kalau kematian memiliki nilai edukatif, dan Soeharto telah berperan serta di dalamnya, maka kematian punya bobot. Ketika manusia merespons kematian, maka manusia mengusahakan dunia yang lebih manusiawi dengan sandang dan pangan yang berkecukupan.
Manusia berusaha menanggulangi kemiskinan dan ketertinggalan. Dan Soeharto justru merealisasikannya dengan memperjuangkan falsafah “ngewongke” (memanusiakan manusia) dalam program-program pembangunan konkret, utamanya bidang pertanian atau ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Soeharto ingin setiap manusia Indonesia hidup dengan lebih manusiawi lewat program pangan. Ini salah satu warisan Soeharto.
“Pada masa pemerintahan beliau, yaitu sejak diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia, pada tanggal 27 Maret 1968, Pak Harto secara gigih memimpin pembangunan nasional yang tertumpu pada Trilogi Pembangunan yaitu Stabilitas, Pertumbuhan dan Pemerataan,” kata Presiden Yudhoyono pada acara pemakaman di Astana Giri Bangun, Karanganyar.
“Sejumlah prestasi dan keberhasilan telah dicapai oleh pemerintahan yang beliau pimpin yang pada hakekatnya menghantarkan bangsa Indonesia setapak demi setapak menjadi bangsa yang makin maju dan makin sejahtera,” katanya.
Soeharto mewariskan sebuah tekad pemerintahan Orde Baru, dengan situasi 1970 yang kental dengan kemiskinan di mana-mana. Di seluruh kepulauan, diperkirakan hampir 60 persen penduduk atau hampir 70 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.
Selama Repelita I (1969/1970-1973/1974), pemerintah memusatkan perhatian pada pembentukan institusi dasar yang diperlukan bagi pembangunan ekonomi. Urutan-urutan nalarnya, karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah masyarakat pedesaan (rural), maka strategi terfokus kepada upaya memajukan produktivitas ekonomi rural dan secara khusus mencapai swasembada beras.
Pertanian, termasuk irigasi mendapat spertiga budget pembangunan selama Periode Repelita I. Mulai tahun 1974, ketika sumber daya umum meningkat secara mencolok, pemerintahan mengintensifkan dan memperluas program pembangunan.
Dari tahun 1973/1974 sampai 1977/1978, sebanyak 49 persen dari rejeki nomplok dalam bentuk nilai tambah pertambangan dialokasikan untuk pembiayaan pembangunan.
Salah satu warisan Orde Baru yakni program pembiayaan Inpres. Inpres dibentuk sebagai sarana membagi pendapatan pemerintah pusat dengan pemerintah tingkat di bawahnya melalui sistem subsidi langsung dengan mengurangi kesenjangan regional dan menciptakan infrastrukur berupa sekolah dan berbagai sarana kesehatan serta jalan raya.
Ini semua jadi warisan Soeharto, yakni perhatiannya kepada masyarakat pedesaan dalam pembangunan yang tidak henti di bidang pertanian.
Mengapa refleksi kematian menjadi bermakna? Yang tinggal sekarang harapan. Bila manusia hidup dalam pengharapan, dan apabila pengharapan sama sekali padam dan hanya ada keputusasaan maka tidak mungkin manusia terus hidup. Pengharapan selalu terkait dengan harapan akan masa depan.
Mengutip filsuf Ernst Bloch, “Meskipun manusia kerapkali mengalami keputusasaan dan ketakutan, justru kecenderungan terkuat ada dalam berpengharapan.”
Manusia hanyalah Homo Viator, atau penziarah yang berjalan menuju kemanusiaan yang lebih penuh dan lebih otentik. Dan Soeharto telah ambil bagian sebagai Homo Viator. Kematian telah menyapa pemimpin Orde Baru itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: