Oleh: edijarot | Januari 30, 2008

PESONA “HOYAK TABUIK” DIHADANG BENTANGAN KABEL

Tidak kurang dari 300 ribu wisatawan lokal, nusantara dan mancanegara “menyerbu” kota pelabuhan Pariaman, Sumbar, yang terletak di pesisir Samudera Hindia, pada Minggu (20/1), untuk menyaksikan puncak Pesta Budaya Tabuik 2008.
Kota kecil hasil pemekaran daerah tahun 2002 dengan luas wilayah hanya 7.336 hektare dan berpenduduk sekitar 73 ribu jiwa itu, tiba-tiba menjadi “lautan manusia”, saat puncak Pesta Tabuik digelar untuk memeriahkan Tahun Baru Islam 1429 Hijriah.
Pesta Tabuik sudah menjadi tradisi Kota Pariaman sejak tahun 1829 dan menjadi icon pariwisata daerah itu.
Tabuik adalah benda budaya berbentuk bangunan keranda bertingkat tiga yang terbuat dari kayu, rotan, dan bambu dengan tinggi mencapai 10 meter dan berat sekitar 500 kilogram.
Bagian bawah Tabuik berbentuk seekor kuda besar bersayap lebar dan berkepala wanita cantik berambut panjang. Kuda gemuk itu dibuat dari rotan dan bambu, dilapisi kain beludru halus warna hitam dan pada keempat kakinya terdapat gambar kalajengking menghadap ke atas.
Bagian tengah Tabuik berbentuk gapura petak yang ukurannya makin ke atas makin besar, berbalut kain beludru dan kertas hias aneka warna yang ditempelkan dengan motif ukiran khas Minangkabau.
Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan “bungo salapan” (delapan bunga) berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau batik.
Bagian puncak Tabuik yang berbentuk payung besar dibalut dengan kain beludru dan kertas hias yang juga bermotif ukiran. Di atas payung itu ditancapkan patung burung merpati putih.
Di kaki Tabuik terdapat empat kayu balok bersilang dengan panjang masing-masing sekitar lima meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan “menghoyak” Tabuik yang dilakukan sekitar 100 orang dewasa.
Tabuik dibuat oleh dua kelompok masyarakat Pariaman, yakni kelompok Pasar dan kelompok Subarang. Tabuik dibuat di rumah Tabuik secara bersama-sama dengan melibatkan para ahli budaya dan sejarah serta tokoh masyarakat sejak tanggal 1 hingga 9 Muharram dengan biaya puluhan juta rupiah untuk setiap Tabuik.
Puncak acara pesta budaya itu dimulai dengan menyandingkan dua tabuik di pusat kota Pariaman. Prosesi itu dimeriahkan juga dengan pergelaran seni budaya anak nagari Pariaman, seperti atraksi tari
indang, tari tabuik, hoyak tabuik lenong (mini) dan pencak silat.
Acara itu digelar di Pusat Pasar Pariaman, dan dihadiri sekitar 300 ribu pengunjung. Membeludaknya pengunjung membuat pusat pasar Pariaman menjadi “lautan manusia” yang juga berjubel di sepanjang ruas jalan yang akan dipakai untuk arak-arak dan hoyak tabuik.
Begitu padatnya pengunjung, untuk melangkahkan kaki pun sangat sulit. Prosesi penyandingan dua tabuik digelar sekitar pukul 15.00 WIB, di tengah teriknya matahari.
Namun suasana itu tidak dihiraukan pengunjung, sehingga lokasi pesta penuh sesak, panas dan hiruk-pikuk.
Setelah prosesi selesai, maka puncak pesta yang paling ditunggu-tunggu pengunjung yakni arak-arakan dan hoyak (menggoyang) tabuik.
Satu tabuik akan diarak dan dihoyak sekitar 50 pemuda anak nagari Pariaman sepanjang jalan dari Pasar Pariaman menuju Pantai Gandoriah yang berjarak sekitar empat kilometer.
Dentuman bunyi alat musik tradisional “tasa” dimainkan sekitar 50 anak nagari pengirim tabuik pun mengalun, membuat “hoyak” tabuik makin meriah dan mempesona.
Sesaat kemudian, dua tabuik mulai dihoyak di tengah dentuman “tasa” dan tatapan mata ratusan ribu pengunjung. Awalnya perjalanan hoyak tabuik begitu mempesona, penuh semangat dan memancing emosi jiwa.
Pengunjung pun tidak tinggal diam, mereka pun mengikuti arak-arak dengan turun ke ruas jalan raya sehingga kepadatan, panas dan hiruk-pikuk semakin keras.
Namun, setelah sekitar 100 meter arak-arak berjalan, hoyak tabuik terpaksa dihentikan dan bunyi dentuman tasa juga berhenti mengalun. Penyebabnya adalah bentangan kabel-kabel listrik dan telepon di udara yang menghadang lajunya tabuik.
Tabuik pun terpaksa dihentikan, jika tidak akan tersangkut kabel dan bisa menimbulkan bahaya, termasuk rusaknya puncak tabuik.
Para pengarak tabuik kemudian terpaksa merebahkan tabuik, lalu mengotongnya melewati bentangan kabel-kabel itu, dan selama itu pula sekitar (20 menit), hoyak tabuik pun berhenti, sehingga mengurangi pesona atraksi itu.
Sepanjang jalan yang dilalui hingga pantai Gandoriah, tercatat beberapa kali tabuik terpaksa direbahkan.
Puluhan ribu pengunjung yang terpesona dan larut dalam prosesi “hoyak Tabuik” juga terpaksa menahan luapan emosi saat dua buah tabuik harus direbahkan karena ada lintangan kabel listrik dan telepon.
Anak nagari yang bertugas mengarak dan menghoyak tabuik harus mengeluarkan tenaga ekstra saat berhadapan dengan lintangan kabel listrik, karena tabuik yang beratnya mencapai 500 kilogram itu terpaksa beberapa kali direbahkan.
Dentuman dan alunan alat-alat masuk tradisional Pariaman, tasa, juga terhenti saat tabuik direbahkan, padahal massa tengah larut dalam pesta di sepanjang jalan sejauh empat kilometer itu.
Bahkan akibat sering direbahkan dan terpaksa digotong ramai-ramai untuk menghindari lintangan kabel, salah satu puncak tabuik seharga Rp100 juta per unit itu patah, sehingga membuat pesona bangunan tabuik itu berkurang.
Meski beberapa kali prosesi hoyak tabuik terhenti akibat bentangan kabel yang menghadang, namun secara umum pesta budaya menyambut masuknya Tahun Baru Islam dan menjadi agenda Visit Indonesian Year 2008 itu berlangsung meriah dan megah.
“Memang sangat disayangkan, arak-arakan dan prosesi hoyak tabuik beberapa kali terhenti karena terhalang bentangan kabel di udara. Ke depan kita sangat harapkan pihak terkait dapat membenahi masalah ini sehingga pesta dengan segala pesona budayanya itu tidak terganggu,” ujar pengamat seni dan budata Pariaman, Drs Syahril Amiruddin MS.
Menurut dia, sudah saatnya Pemko Pariaman mengupayakan agar kabel-kabel yang melintang diudara itu diganti dengan kabel bawah tanah, minimal di sepanjang jalur arak-arakan dan hoyak tabuik.
“Jika kabel tak lagi melintang di udara, maka prosesi arak-arakan dan hoyak tabuik akan berjalan mulus tiada henti hingga di bibir pantai Gandoriah, tempat tabuik dibuang ke laut,” katanya.
Dengan terciptanya kondisi seperti itu maka pesona pesta budaya Tabuik akan lebih meningkat dan menarik, termasuk untuk ditawarkan ke pasar wisata internasional,” ujar Syahril.
Menanggapi hal ini, Walikota Pariaman, H Mahyuddin mengakui bentangan kabel-kabel itu yelah mengurangi pesona prosesi hoyak tabuik.
“Sejak tahun 2003, pemko sudah berupaya mengatasinya dengan menyurati pihak PT PLN dan PT Telkom untuk bersedia memindahkan kabel-kabel udara ke bawah tanah, namun hingga saat ini belum terealisasi, karena besarnya anggaran untuk jalur perubahan tersebut,” katanya.
Permintaan ini akan terus disampaikan kepada pihak PT PLN dan PT Telkom dengan harapan anggaran untuk perubahan jalur kabel ini cepat tersedia sehingga tidak lagi mengganggu proses hoyak tabuik, katanya.
Harapan ini cukup beralasan, karena tabuik memliki tinggi hingga 10 meter, sedangkan bentangan kabel sekita lima meter dari permukaan tanah.
Pembenahan kabel-kabel itu juga mendesak dilakukan karena Pemko Pariaman berencana menggelar Pesta Tabuik dua kali setahun, tidak seperti sekarang, sekali setahun, karena atraksi budaya tersebut diyakini sangat menarik wisatawan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: