Oleh: edijarot | Januari 30, 2008

SOEHARTO DAN WARTAWAN PELIPUT DI RSPP

Bagi wartawan, wafatnya mantan Presiden HM Soeharto menimbulkan duka dan lega sekaligus.
Perasaan duka muncul ketika menyadari bahwa yang meninggal itu merupakan pemimpin bangsa.
Namun, wafatnya HM Soeharto juga membuat “lega” sejumlah wartawan, yang sejak penguasa order baru itu masuk Rumah Sakit Pusat Pertamnina (RSPP) awal Januari, selalu bergantian mendapat tugas jaga di rumah sakit tersebut. Tugas yang “membosankan” itu setidaknya tidak ada lagi.
“Saya jadwalnya besok malam jaga di RSPP,” kata Imam salah seorang wartawan cetak.
Selama 23 hari puluhan wartawan cetak maupun eletronik harus bergantian bergadang menunggu perkembangan berita kondisi kesehatan “bapak pembangunan” tersebut.
Halaman depan RSPP-pun seolah menjadi tempat kos gratis puluhan wartawan. Peralatan lengkap wartawan televisi dan satelitnya nongkrong di RSPP.
“Yaa setidaknya dengan wafatnya HM Soeharto kita tidak lagi begadang di RSPP, legalah,” kata Imam kameramen TV.
Beberapa wartawan televisi terlihat saling bersalaman dan saling cium pipi kiri dan kanan mengekspresikan rasa “leganya”.
Selama Soeharto dirawat di RSPP, setidaknya beberapa wartawan menyusul sakit sehabis mendapat piket di rumah sakit tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: