Oleh: edijarot | Januari 30, 2008

WARISAN PAK HARTO

Oleh Edy M Ya’kub

Pemberitaan dan tayangan yang luar biasa tentang sakitnya mantan Presiden Soeharto diimbuhi dengan sebuah survei yang memperlihatkan hasil bahwa 67 persen rakyat Indonesia ingin segala kesalahan Soeharto dimaafkan.
Mengada-adakah?
Belum ada kajian serius soal itu. Tapi, ketika HM Soeharto wafat pada Minggu (27/1), banyak orang Indonesia yang mengaku kehilangan dan mereka berupaya mengucapkan belasungkawa dengan bermacam cara, termasuk mendatangi kediaman keluarga Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.
Sebut saja Sri Rochmanur (50), ibu lima anak, yang menjadi bagian dari rakyat biasa yang ingin mengucapkan belasungkawa secara langsung ke Cendana. Tapi, pada hari Minggu itu, dia cuma bisa berkerumun dengan ribuan pelayat lain yang tidak mendapat izin untuk masuk ke rumah duka.
“Saya sudah siap yasinan, saya sudah bawa buku Yasin. Ini hari yang sakral buat saya, tidak akan terulang dua kali seumur hidup,” katanya, serius.
Tidak hanya Sri Rochmanur sendirian, karena banyak warga yang menginap di Jalan Cendana untuk membacakan Yasin bagi seorang Soeharto.
Padahal, warga Pademangan berkerudung putih itu tidak mengetahui letak Cendana, dan ia pun mengikuti begitu saja ketika kondektur bus menyuruh dia turun di depan stasiun Gambir.
Sri Rochmanur kemudian bertanya kepada beberapa orang soal rute menuju Cendana, yang kemudian dia menempuh tujuannya itu dengan berjalan kaki mengikuti jalan layang kereta api ke arah Gondangdia.
“Saya sedih, karena dia masih lebih baik. Cari duit pun lebih gampang, kondisi juga lebih aman,” katanya.
Hingga pukul 18.00 WIB, situasi di depan rumah Soeharto masih ramai oleh masyarakat sekitar yang ingin mengetahui perkembangan terakhir proses pemakaman, hingga akhirnya masyarakat diperbolehkan masuk sekira pukul 22.00 WIB.
Pandangan serupa dengan Rochmanur juga terucap dari warga yang ada di tapal batas Indonesia (RI) dengan Papua Nugini (PNG).
Rakyat perbatasan RI-PNG, khususnya yang bermukim di kampung-kampung terpencil dan terisolasi hingga kini masih menyimpan secara baik gambar Pak Harto di dinding rumah mereka atau di balai pertemuan kampung.
Wartawan ANTARA di Jayapura (27/1) melaporkan, di Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua yang merupakan wilayah tapal batas antara RI dengan PNG, gambar Pak Harto masih terpampang pada dinding rumah bagian dalam dan terbanyak di dalam kamar tidur dan ruang tamu warga.
“Kami gantungkan gambar Presiden Soeharto karena tidak ada gambar yang lain, sekaligus mengingatkan kami bahwa Indonesia pernah dipimpin seorang bernama Soeharto. Gambar Presiden Soeharto ini juga merupakan sebuah hiasan dinding rumah kami,” kata warga setempat, Antonius May.
Ia mengaku masih menyimpan gambar Pak Harto karena masih menaruh hormat kepadanya.
“Orang yang berjasa membangun negeri ini harus dihormati dan gambarnya tetap disimpan untuk dilihat anak dan cucu. Pak Harto harus dikenang, karena dia pernah menjadi Presiden RI yang berjasa bagi rakyat di tapal batas,” katanya.
Ketika Indonesia masih dipimpin Presiden Soeharto, katanya, gambar Presiden dan Wakil Presiden Indonesia dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat pada setiap menjelang Pemilu di era 1970-an hingga 1980-an, sehingga warga di perbatasan antarnegara ini pun mengenal Presiden mereka yakni Pak Harto.
Bahkan, gambar Presiden Soeharto juga masih disimpan di balai pertemuan kampung. Tidak ada gambar presiden, selain Soeharto
Tentang kematian Pak Harto, warga lain, Steven May, mengatakan warga Distrik Waris sudah mengetahui berita duka itu melalui siaran radio dan televisi.
“Saudara-saudara kita dari perbatasan PNG pun sudah tahu kalau Pak Harto meninggal dunia ketika mereka datang ke perbatasan Indonesia untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ketika mereka sedang berbelanja itulah, warga PNG mendengar perbincangan warga Distrik Waris mengenai kematian mantan Presiden Soeharto,” katanya.
Akhirnya, beberapa rumah yang memiliki pesawat televisi yang menyiarkan wafatnya Pak Harto diserbu tetangga untuk menyaksikan berbagai aktivitas seputar kematian Pak Harto, sedangkan warga lain yang jauh dari jangkauan televisi hanya mendengar berita-berita itu melalui siaran radio.

Ekonomi kerakyatan
Sosok Soeharto yang melekat di hati sebagian rakyat itu tak lepas dari warisannya yang cukup berharga yakni ekonomi kerakyatan, bukan ekonomi pasar.
Di mata pengamat ekonomi dan politik Hadi Soesastro, keberhasilan mantan Presiden Soeharto menangani ekonomi dan politik dapat dijadikan sebagai catatan positif bagi negara ini.
“Sejumlah kebijakan yang dilakukan mantan Presiden Soeharto selama 32 tahun memimpin lebih banyak diarahkan kepada pembangunan nasional berbasiskan program-program ekonomi kerakyatan,” kata pengamat dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) itu.
Menurut dia, keadaan negeri ini ketika dimulainya Orde Baru tidak begitu baik, itu terlihat dari krisis ekonomi yang diwariskan Orde Lama.
“Selama 15 tahun, pemerintahan ketika itu harus berjuang melepaskan diri dari krisis yang di ambang kebangkrutan. Pak Harto selanjutnya mengambil langkah dengan melakukan rekonsiliasi dengan program REPELITA-nya,” katanya.
Membaiknya ekonomi hingga kepemimpinan Soeharto lengser pada tahun 1998, katanya, terlihat dari indikator makro seperti peningkatan pendapatan nasional, membaiknya daya beli masyarakat, nilai tukar yang lebih kuat, produksi sumber daya alam yang terus meningkat.
Di tataran mikro, kebijakan fokus pada upaya peningkatan produksi pertanian, peningakatan kesehatan, pendidikan, dan penurunan angka kemiskinan.
“Di bidang pertanian terlihat jelas ketika Indonesia pernah mencapai swasembada pangan hingga mendapat penilaian positif dari masyarakat internasional,” katanya.
Sebagai negara agraris, katanya, Indonesia tidak selayaknya menjadi pengimpor hasil-hasil pertanian seperti saat ini.
“Apakah hal ini masih diteruskan ke masa-masa mendatang. Kalau ini yang terjadi, maka sulit bagi kita mengatakan bahwa ekonomi kerakyatan sudah bangkit kembali seperti di masa lalu,” katanya.
Di bidang politik, Hadi juga berpendapat pemerintahan Orde Baru tergolong kuat karena memiliki sistem kepemimpinan yang dikawal figur-figur menteri atau pembantu yang memiliki kesamaan pandangan.
Bahkan, katanya, di bidang politik luar negeri juga mendapat sorotan dunia selama kepemimpinan Soeharto, seperti memperbaiki kembali hubungan Indonesia-Malaysia setelah sebelumnya sempat berkonfrontasi, dan peran Indonesia meningkatkan stabilitas keamanan di regional ASEAN dan Asia Pasifik.
“Namun, ada juga sisi negatif seperti berkembangnya kronisme yang mengakar di semua bidang kehidupan. Tentu, hal itu adalah bagian kedua dari cerita soal Pak Harto,” katanya.
Pandangan itu dibenarkan praktisi bisnis yang juga Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir (SB). Ia menilai pemerintah sekarang telah gagal dalam sektor perekonomian, karena pemerintah berpegang pada ekonomi pasar.
“Semuanya berpegang pada ekonomi pasar, bahkan mentan (menteri pertanian) juga ikut-ikutan ekonomi pasar, sehingga Indonesia yang agraris justru impor kedelai,” katanya di hadapan 165 peserta Rakerwil II PAN se-Jatim di Surabaya, sehari sebelum Soeharto wafat.
Menurut dia, ekonomi pasar telah terbukti gagal, bahkan Jepang dan Amerika Serikat (AS) juga memberikan subsidi yang besar kepada rakyatnya, namun di Indonesia justru pemerintah terpisah dengan rakyatnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: